
Setelah lebih dari setahun, akhirnya gw mencoba menulis sesuatu lagi, dan kali ini BUKAN sesuatu yang ngga penting :)
The unfortunate event of not writing anything untuk begitu lama (mungkin dan hampir pasti) adalah : Males, ngga sempet (sok banyak kerjaan), belum punya tujuan yang pas untuk nulis (yang kepikiran cuma kuliner), ngga terlalu hobby cerita ini itu, ngga bisa nulis (alasan klise dan memalukan), ngga ada yang akan baca (selain sang istri tercinta dan mungkin dia kira blog ini juga udh tutup,hehehe...)
Sebenernya, masih bisa dicari lagi sih alesan lainnya, tapi intinya : blogging is just not my thing (yet)
Jangan tanya juga : "Lah kalo ngga pgn nulis, kenapa bikin blog?" Yah, namanya juga manusia, ngeliat orang punya blog pengen punya blog. Untung sifat beginian ngga menular ke urusan beli gadget sejuta umat :)
OK, cukup intro yang ngga penting ini. Sekarang cerita yang beneran...
The First Test
Ceritanya dimulai sekitar tahun lalu di bulan Oktober ketika Bunda mulai "telat".
Ada perasaan seneng, karena itu memang "telat" yang diharapkan :)
Hati tambah mulai berseri-seri ketika dokter bilang POSITIF
Excited and even too excited...
Sampai tiba-tiba suatu hari waktu lagi di field Kaji (somewhere in Sumsel), kesamber petir di siang bolong dapet telpon dari Bunda yang baru pulang dari dokter dan bilang bahwa janinnya ngga berkembang a.k.a blighted ovum a.k.a keguguran
Kaget. Dan pikiran mulai berpikir yang macem2 : "apa salah kita?"
Sedih. Kasihan Bunda, it must have been 100 times harder for her than it was for me
Menyesal. Saat itu ngga bisa ada di sampingnya untuk memeluknya dan bilang bahwa semua baik-baik aja
Tapi di sinilah salah satu hal hebat terjadi : My dear Meta berhasil untuk tidak berlarut dalam kesedihan dan mulai punya semangat untuk mencoba "telat" lagi :)
She's got positivity (that matters) which was definitely not easy for her. Definitely not easy, and believe me when I say it ain't easy
The Pregnancy
Alhamdulillah, Allah SWT memberikan kesempatan lagi dan singkat kata, we were expecting a baby girl to be born in September 2010.
The pregnancy was another story. Ngga seperti kehamilan pertama, kali ini Meta lebih cepet capek dan alhasil lebih cepet stress. Wajar aja. Meta harus kerja dan bermacet-macetan gila setiap hari. Di rumah sudah ditunggu Nara yang selalu super heboh dan lagi hobby mencoba kesabaran ayah bundanya. Punya suami ribet dan ngga pernah on time. Asisten rumah yang kerjanya makin banyak miss tapi tetap moody (nah lo, mantep ngga tuh?) dan ditambah harus jadi portfolio manager keluarga yang dituntut suami bisa berinvestasi yang punya return minimal 10% per bulan (hehehe...). Plus, cicilan rumah yang walaupun cicilan tahun pertamanya "rendah" tetep aja kalo dipikirin selalu bikin mood ngga enak,hihihi...
Dan disinilah hal hebat lain yang terjadi : My dear Meta berhasil melewatinya dengan baik dan semua tuntutan dijawab tuntas. Semua urusan selesai dan sang bunda dalam keadaan sehat fisik dan mental.
Indikatornya? berat badannya dan si bayi naik dengan pesat (oh, she's gonna kill me for saying this..)
The Birth
Bagian ini ceritanya bakalan singkat, seperti juga proses melahirkan itu sendiri. Walaupun kalo disuruh nginget-nginget betapa tegang dan hampir gilanya, rasanya jadi lamaaaaaa banget :)
Setelah berhasil mengingat-ingat tanda-tanda melahirkan, kita berangkat ke rumah sakit dan akhirnya makin inget setelah masuk ruang observasi. Walaupun RSnya beda, baunya tetap sama dan dengan suskes mulai membangun ketegangan..
I hope it would be a little bit easier than tha first one, but it was definitely not!
Sang bunda kesakitan luar biasa. And I would never want to see her that way again. Kalau bisa, jangan lagi.
Such a tense situation which had a nearly same impact on us : hampir pingsan
And yes, another extra ordinary things happened again : Si Bunda sukses melahirkan Leandra yang beratnya 3,7 kilo dengan normal.
Being in there, watching her struggling, was definitely one of the most important moments in our life.
Alhamdulillah ya Allah, kita berdua ngga pingsan.
The Breastfeeding
Dan akhirnya kita sampai suatu saat yang ditunggu-tunggu. Breastfeeding the baby.
Mungkin buat beberapa orang, itu adalah hal yang biasa, alami dan ngga stressful.
But definitely not for us. Allah memang melatih kita untuk tabah dengan berbagai macam cara and "luckily" for us, breastfeeding is one of the test.
Kalau lantas kemudian berakhir dengan happy ending, si Bunda sekarang sudah bisa menyusui Leandra sambil makan dan nge-twit, cerita "berdarah-darahnya" istriku belajar menyusui lebih baik ngga usah diceritain di sini. Termasuk semua cerita detail chapter di atas, tersaji dengan sangat manis di metariza.com
The highlight is : Meta berhasil mengalahkan dirinya sendiri untuk tetap tenang (bukan berarti tanpa nangis- nangis dan senyum lebar selalu ya..), fokus dengan komitmennya untuk menyusui dan berhasil melekatkan Leandra dengan baik.
Yang lebih hebat lagi adalah, proses ini dia jalanin saat ditinggal sang suami ke field selama seminggu.
Rasanya seneng banget, seperti waktu tahu bahwa si bunda sudah bisa nyetir :)
A clear lesson learnt untuk Meta : Don't ever give up.
The Story Continues...
Dan seperti kebanyakan orang bilang, melahirkan dan belajar menyusui itu baru awalnya. That is true.
Taking care of a baby is not easy, but with a supercool kid like Nara plus a super complicated husband like me, things just got more challenging.
Rutinitas yang super exhausting, terutama setelah mulai kerja : mompa ASI sehari minimal 5 kali sehari, menyusui Leandra tengah malam and almost everytime, ngurus si Kakak Nara dan Ayah yang sama ribetnya, ngurus rumah dengan segala tetek bengek urusan belanja dan menu makan, (tetep) ngatur cashflow kita yang walaupun kebanyakan cuma numpang lewat utk bayar KPR tapi tetep si suami selalu tanya "Udah berapa untungnya? (Untung? lo kira dagang nasi? hehe..).
Tunggu, belum selesai. Ditambah : tetep jadi kuli di kantor, kepikiran Nara yang kurus dan kekhawatiran lainnya soal Leandra, bunga KPR yang 13,25%, punya rumah baru tapi bingung ngisinya dsb dsb dsb...
And here we are, kita masih hidup dengan bahagia dan alhamdulillah semuanya sangat baik-baik saja.
This is the last magic of her : Si Bunda berhasil melakoni semuanya dengan excellent!
Dan sungguh, ngga menyangka bahwa si Bunda bener-bener bisa melakukannya.
Selama ini dia selalu bilang bahwa dia ngga kebayang hidup tanpa suaminya.
But it should be my question now, "What would I do without you?"
My dearest wife, tahun ini, begitu banyak hal luar biasa yang terjadi dan semuanya adalah karena kamu.
I'm truly the luckiest man on earth with two incredible kids who married an extra ordinary wife.
Selamat Hari Ibu, sayang.... I love you with all my heart